Kamis, 05 Januari 2012

karya ilmiah menulis

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Gaya bahasa merupakan salah satu unsur dari sebuah puisi. Dalam puisi penyair berusaha menyampaikan ide, perasaan, dan pikirannya dengan menggunakan bahasa yang dibuat sedemikian rupa sehingga tampak indah dan penuh makna. Oleh karena itu, untuk dapat membaca puisi dengan baik, memahami, memaknai, menganalisis, dan mengajarkan puisi, kita harus memahami gaya bahasa dalam puisi tersebut.
Setiap orang memiliki gaya berbahasa yang berbeda-beda. Perbedaan gaya berbahasa seseorang dengan yang lain dapat terjadi dalam hal penggunaan kosakata, penyusunan kosakata dalam kalimat, pengungkapan sesuatu dengan bahasa yang indah, pengungkapan sesuatu dengan pengertian bahasa yang berlebih-lebih. Dengan kata lain, penggunaan gaya bahasa sangat penting dalam bahasa sehari-hari.
Dengan melihat gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang dalam puisi, kita akan dapat melihat kepribadian, watak, dan kemampuan pengarang puisi tersebut.

1.2  Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk lebih mudah dalam memahami gaya bahasa dan faktor kebahasan dalam puisi secara lebih rinci.
1.3  Ruang Lingkup

a.       Pengertian Gaya Bahasa
b.      Ciri-ciri gaya bahasa
c.       Jenis-jenis gaya bahasa
d.      Faktor kebahasaan dalam puisi

1.4  Kerangka Teori
Menurut Moeliono, 1989 Gaya bahasa adalah cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan.
Menurut Pradopo, 1987 Gaya bahasa adalah menghidupkan kalimat dan memberi gerak pada kalimat untuk menimbulkan reaksi tertentu untuk menimbulkan tanggapan pikiran kepada pembaca.
Menurut Keraf, 1987 Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran atau perasaan melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa).
1.5  Pembahasan
1.5.1        Pengertian Gaya Bahasa
Gaya bahasa merupakan pemakaian ragam bahasa dalam mewakili atau melukiskan sesuatu dengan pemilihan dan penyusunan kata dalam kalimat atau untuk memperoleh efek tertentu. Setiap pengarang biasanya mempunyai gaya bahasa sendiri. Hal ini sesuai dengan sifat dan kegemaran masing-masing pengarang. Pengarang menggunakan gaya bahasa yang bermacam-macam untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Pemilihan gaya bahasa bergantung pada situasi dan isi pesan yang akan disampaikan kepada pembaca.
Dengan gayanya yang khas seorang penyair akan memberikan bentuk terhadap apa yang ingin dipaparkannya. Kadang-kadang kita dibuat tidak mengerti mengapa dengan gayanya tertentu seorang penyair dapat mengekalkan pengalam pribadinya dan penglihatan batiniahnya sehingga menyentuh perasaan pembaca.
Gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur :
a.       Kejujuran
Bahasa adalah alat untuk bertemu dan bergaul. Oleh karena itu bahasa harus digunakan secara tepat dengan memperhatikan sendi-sendi kejujuran.
b.      Sopan-santun
Yang dimaksud dengan sopan-santun adalah memberi penghargaan atau mengormati orang yang diajak bicara, khususnya pendengar atau pembaca.
c.       Menarik
Kemenarikan gaya bahasa dapat diukur melalui beberapa komponen, yaitu: variasi, humor yang sehat, pengertian yang baik, tenaga hidup (vitalitas) dan penuh daya khayal ( imajinasi).


1.5.2        Ciri-ciri Gaya Bahasa
Gaya bahasa mempunyai ciri-ciri, antara lain:
a.       Ada perbedaan dengan sesuatu yang diungkapkan, contohnya: melebihkan, mengiaskan, melambangkan, mengecilkan, menyindir atau mengulang-ulang.
b.      Kalimat yang disusun dengan kata-kata yang menarik dan indah
c.       Pada umumnya mempunyai makna kias.

1.5.3        Jenis-jenis Gaya Bahasa
Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna :
a.       Aliterasi
Aliterasi adalah gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Alitersi ini banyak digunakan dalam puisi. Fungsinya adalah untuk keindahan atau penekanan arti atau makna, dan menciptakan suasana tertentu dalam puisi

Contoh:
              Bukan beta bijak berperi pandai
              Mengubah madah dan syair
              Bukan beta budak negeri
              Musti menurut undangan mair
              ....
                                    (Rustam Effendi, Percikan Permenungan)

b.      Asonansi
Asonansi adalah gaya bahasa yang berupa perulangan bunyi vokal yang sama. Fungsi gaya bahasa asonansi adalah untuk memperoleh efek penekanan makna, menciptakan suasana tertentu ataupun sekedar keindahan.
Contoh:
              Akulah adam dengan mulut yang sepi
              Putera surgawi
              Yang damai, terlalu damai
              Ketika bumi padaku melambai
                                    (Goenawan Mohamad. Parikesit)

c.       Anastrof
Anastrof adalah gaya bahasa yang diperoleh dengan cara membalikkan susunan kalimat yang biasa.
Contoh:
              Waktu lonceng berbunyi
              Percakapan merendah
              Waktu seseorang sudah lupa menunggu
              Kabarpun sampai
                                    (Sapardi Djoko Damono, Dukamu Abadi)

d.      Apofasis atau Preterisio
Apofasis adalah gaya bahasa yang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal.
Contoh: saya tidak mau memberikan kepada umum, bahwa
              saudara telah menggelapkan ratusan juta uang negara

e.       Apostrof
Apostrof adalah gaya bahasa yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir.
Contoh: hai kamu dewa-dewa yang berada disurga
              Datanglah dan bebaskan kami dari penindasan ini.




f.       Asindenton
Asindenton adalah gaya bahasa yang menyebutkan banyak orang, barang atau sifat yang berturut-turut dengan tidak banyak menggunakan kata penghubung.
Contoh:
              Perempuan mengirim air matanya
              Ke tanah-tanah cahaya, ke kutub-kutub bulan
              Kelandasan cakrawala, ....
              .....
                                    (Sapardi Djoko Damono, Dukamu Abadi)


g.      Polisidenton
Polisidenton adalah gaya bahasa kebalikan dari asindenton yaitu penyebutan banyak orang, barang atau sifat berturut-turut dengan banyak mempergunakan kata penghubung.
Contoh:  .....
              Apakah akan kita jumpai wajah-wajah bengis
              Atau tulang belulang, atau sisa-sisa jasad mereka
              Di sana?......
              ..............
                                    (Supardi Djoko Damono, Dukamu Abadi)

h.      Kiasmus
Kiasmus adalah gaya bahasa yang terdiri dari dua bagian, baik frase atau klausa yang sifatnya berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frase atau klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frase atau klausa lainnya.
Contoh:
              Kalau aku dalam engkau
              Dan engakau dalam aku
              Adakah begini jadinya
              Aku hamba engkau penghulu
                                    (Amir Hamzah, Nyanyi Sunyi)

i.        Elipsis
Elipsis adalah gaya bahasa yang menggunakan kalimat elips, artinya ada kata-kata dalam kalimat tersebut yang dihilangkan.
Contoh:  .....
              Aku akan dengar igaumu. Desismu dari instink
              Kejantanan, dan berusaha lekas kembali
              Sesudah kokok ayam pertama
                                    (Rusli Marzuki Saria)



j.        Tautologi
Tautologi adalah gaya bahasa penyebutan atau pengulangan kembali kata yang telah disebut-sebut didepan dengan kata-kata yang sama atau sama artinya.
Contoh: .....
              Mereka telah tidur sejak abad pertama
              Semenjak hari pertama itu
              ................
                                    (Sapardi Djoko Damono, Dukamu Abadi)

k.      Paradoks
Paradoks adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada.
Contoh: Tiada bersua dalam dunia
              Tiada mengapa hatiku sayang
              Tiada dunia tempat selama
              Layangkan angan meninggi awan
                                    (Amir Hamzah, nyanyi sunyi)

l.        Hiperbola
Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan
Contoh:
              Politisi dan pegawai tinggi
              Adalah caluk yang rapi
              Kongres-kongres dan koperensi
              Tak pernah berjalan tanpa kalian
                                    (Rendra)
Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat:
a.       Klimaks
Gaya bahasa klimaks diturunkan dari kalimat yang bersifat periodik. Klimaks adalah gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya.
Contoh: .....
  percakapan merendah, kita kembali menanti-nanti
              Kau berbisik: siapa lagi akan tiba
              Siapa lagi menjemputku berangkat berduka
              .....
                                                (Sapardi Djoko Damano, Dukamu Abadi)      





b.      Antiklimaks
Gaya bahasa antiklimaks mengungkapkan gagasan atau pikiran yang diurutkan dari hal yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting. Gaya bahasa ini dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur mengendur.
Contoh: .....
              Hujan rinyai waktu musim berdesik-desik pelan
              Kembali bernama sunyi
              .....
                                                            (Sapardi Djoko Damano, Dukamu Abadi)
c.       Paralelisme
Paralelisme adalah gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejahteraasn dalam pemakaian kata-kata atau frase yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama.
Contoh:
              Kita saksikan burung-burung lintas di udara
              Kita saksikan awan-awan kecil dilangit udara
                                                (Sapardi Djoko Damano, Dukamu Abadi)

d.      Antitesis
Antitesis adalah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan. Gaya bahasa ini timbul dari kalimat berimbang.

Contoh:
              Makin samar
              Mana mulia,mana hina
              Mana kemajuan, mana kemunduran
              .....

e.       Repetisi
Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai.
Contoh:                                   Tapi
  Aku bawakan bunga padam
                                                            Tapi kau bilang masih
              Aku bawakan resahku padamu
                                                            Tapi kau bilang hanya
              Aku bawakan darahku padamu
                                                            Tapi kau bilang Cuma
              .......
                                    (sutardji Calzoum Bachri, O Amuk Kapak)
1.5.4        Faktor Kebahasan dalam Puisi
Dalam puisi sering terjadi penyimpangan-penyimpangan penggunaan bahasa dari sistem norma bahasa yang umum. Maksud penyair melakukan penyimpangan-penyimpangan  tersebut adalah untuk mendapatkan efek puitis dan untuk mendapatkan ekspresivitas.
Penyimpangan-penyimpangan itu berupa:
a.       Penyingkatan atau pemendekan kata
Dalam puisi-puisi modern sering dijumpai kata-kata yang dipendekkan. Hal ini merupakan salah satu usaha penyair untuk mendapatkan keindahan dari penggunaan kata-kata tersebut. Ada juga yang menggunakannya untuk kelancaran pengucapan dan mendapatkan irama yang menyebabkan liris.
Contoh:
              Kalau sampai waktuku
              Ku mau tak seorang ‘kan merayu

b.      Penghilangan Imbuhan
Imbuhan yang biasanya dihilangkan penyair untuk mendapatkan efek puitisnya yaitu awalan, akhiran, ataupun awalan dan akhiran. Imbuhan ini juga digunakan untuk mendapatkan daya ekspresi yang penuh karena kepadatannya.
Contoh:                       kesabaran
              Aku tak bisa tidur
              Orang ngomong anjing nggonggong
              .....
              Aku hendak bicara


c.       Penghapusan tanda baca
Penyair sengaja menghilangkan tanda baca atau hanya menggunakan satu tanda baca diakhir dalam puisi yang ditulisnya.
Contoh:                       Colonnes Sans Fin

              Tiang tanpa akhit tanpa apa di atasnya
              Tiang tanpa topang apa di atasnya
              Tiang tanpa akhir tanda duka lukaku
              Tiang tanpa siang tanpa malam tanpa waktu

              Tiang tanpa akhir menuju ke mana kau dan aku
              Yang langit koyak yang surga tumpah karena tinggi tikammu
              Luka terhenyak neraka semakin galak dalam bobotmu
              Tiang tanpa akhir ah betapa kecilnya kau jauh dibawah kakiku
                                                (Sutardji Calzoum Bachri, O Amuk Kapak)


d.      Pemutusan Kata
Sering dijumpai puisi-puisi yang di dalammya terdapat kata-kata diputus. Penyair yang terkenal dengan pemutusan kata-kata dalam puisinya adalah Sutardji Calzoum Bachri. Banyak puisi yang didalmnya terdapat kata yang diputus-putus menjadi suku kata dan suku kata tersebut juga di bolak balik seenaknya. Contohnya dalam puisi Sutardji yang berjudul Tragedi Winka & Sihka.
e.       Penggabungan atau rangkaian dua kata atau lebih
Gabungan kata seolah-olah sudah menjadi padu dan menimbulkan arti yang baru. Efek yang ditimbulkan dengan penggabungan kata-kata tersebut adalah adanya kesan melebih-lebihkan
Contoh:           kakekkakek & bocahbocah

Kakekkakek
            Tidur  di pantai
Dan bocahbocah main
....................
                        (Sutardji Calzoum Backri)

f.       Penyimpangan struktur sintaksis
Penyimpangan-penyimpangan ini dilakukan oleh penyair untuk mendapatkan irama yang liris, kepadatan, dan ekspresivitas.
Contoh: biar susah sungguh
              Mengingat kau penuh seluruh
Seharusnya susunan kalimat dalam puisi tersebut adalah
              Biar sungguh susah
              Mengingat kau seluruh(nya) penuh

1.6  Hasil
Gaya bahasa adalah ungkapan pikiran dan perasaan yang di tuangkan melalui tulisan dengan penggunaan kata-kata yang menarik sehingga dapat menimbulkan respon atau tanggapan dari pembaca dan pendengar.
Gaya bahasa harus memiliki tiga unsur, yaitu kejujuran, sopan santun dan menarik. Dan gaya bahasa mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
-          Ada perbedaan dengan sesuatu yang di ungkapkan
-          Kalimat disusun dengan kata-kata yang menarik dan indah
-          Pada umumnya mempunyai makna kias



Jenis-jenis gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna:
-          Aliterasi
-          Asonansi
-          Anastrof
-          Apofasis atau preterisio
-          Apostrof
-          Asindenton
-          Polisidenton
-          Kiosmus
-          Elipsis
-          Tautologi
-          Paradoks
-          hiperbola
jenis-jenis gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat:
-          klimaks
-          antiklimaks
-          paralelisme
-          antitesis
-          repetisi
dalam puisi penyair membuat penyimpangan dari tatabahasa normatif  dalam puisi-puisinya. Penyimpangan-penyimpangan tersebut berupa:
-          penyingkatan atau pemendekan kata
-          penghilangan imbuhan
-          penghapusan tanda baca
-          pemutusan kata
-          penggabungan atau persngkaian dua kata atau lebih
-          penyimpangan struktur sintaksis








BAB II PENUTUP

2.1 Kesimpulan
            Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran atau perasaan melalui bahasa dengan kata-kata yang manarik sehingga mendapat respon dari pembaca atau pendengar.
            Jadi dalam mengungkapkan perasaan dan pikiran bervariasi. Variasi dalam menggunakan kosakata, susunan kosakata atau kalimat. Dengan kata lain, pengungkapan pikiran dan perasaan dalam bentuk bahasa dengan ragamnya masing-masing juga disebut gaya bahasa. Gaya bahasa juga sering disebut majas.

2.2 Saran
Karya tulis ilmiah ini disusun berdasarkan literature yang penulis miliki. Mudah-mudahan tugas ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Jika dalam penulisan dan penyajian karya tulis ilmiah ini terdapat kesalahan, kritik dan saran dari pembaca saya terima sebagai intropeksi diri agar dalam pembuatan tugas selanjutnya bisa lebih baik dan bisa ditingkatkan lagi demi kesempurnaan untuk kedepannya.














DAFTAR PUSTAKA

Waluyo, Herman J.1991.Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
Nursalim, A.R 2005. Pengantar Kemampuan  Berbahasa Indonesia. Pekanbaru: Infinite.






















KATA PENGANTAR

            Segala puji hanyalah milik Allah s.w.t semesta alam yang telah memberikan berbagai nikmatnya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Ushwah kita yakni Nabi Muhammad saw beserta keluarganya, sahabat dan umatnya yang setia mengikuti jejak langkahnya hingga akhir zaman.
            Dan tak lupa ucapan terima kasih kepada Bapak Drs. Jamilin Tinambuna, M.Ed selaku dosen pembimbing dalam mata kuliah Menulis yang telah memberikan arahan kepada saya. Dan teman-teman yang memberikan dukungan.
            Di dalam penulisan makalah ini saya menyadari masih terdapat kekurangan baik dari segi penulisan maupun dari sgi bahasanya. Untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran dari pihak pembaca yang bersifat membangun untuk masa yang akan datang.
            Demikian kata pengantar ini di buat, terima kasih


                                                                                                            Wassalam


                                                                                                         Yulia Fatriana











DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
1.2  Tujuan
1.3  Ruang Lingkup
1.4  Kerangka Teori
1.5  Pembahasan
1.6  Hasil
BAB II PENUTUP
2.1 Kesimpulan
2.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA














Tidak ada komentar:

Poskan Komentar